Forum Literasi buat Video Edukasi soal Pentingnya Patuhi Protokol Kesehatan

Jakarta – Forum Literasi Mahasiswa Jakarta membuat video edukasi dengan tema “Peran Pers dan Tokoh Masyarakat dalam Mensosialisasikan Adaptasi Kebiasaan Baru serta Protokol Kesehatan”, pada Senin (21/9).

Dalam video tersebut Forum Literasi juga menghadirkan narasumber yang kompeten, seperti Selamat Ginting (Wartawan Senior Republika), Dr. Siti Napsiyah (Pengamat Sosial UIN Syarief Hidayatullah Jakarta) dan Dedi Purnama (Sekjen GP Ansor Jakarta Selatan).

Selamat Ginting mengatakan Peran Media Massa dalam penanganan Covid-19 ini, harus menjadi filter. Filter penjernih atas informasi-informasi yang berkembang soal Covid-19. Artinya media juga harus memberikan informasi terbuka dengan fakta, data dan jangan ada yang ditutup-tutupi. Caranya harus bekerja sama dengan pemerintah. Sementara Pemerintah juga harus membuka akses seluas-luasnya agar masyarakat bisa memperoleh informasi yang benar.

“Pers juga sebaiknya lebih mengedepankan informasi-informasi yang positif, bukan informasi yang negatif karena jika informasi negatif yang dikedepankan akan mempengaruhi psikologis masyarakat. Informasi positif misalnya berapa jumlah orang yang sembuh dalam penanganan ini. Bukan hanya mempublish pemberitaan yang  meninggal terus. Ini akan membuat efek down.” tambahnya.

“Masyarakat juga harus mematuhi protokol kesehatan, menggunakan masker, menjaga jarak, rajin mencuci tangan, serta menjaga kesehatannya dengan cara berolahraga, menghindari stress dan yang kelima jangan lupa gizi yang baik artinya makanan juga harus diperhatikan.” tutup Selamat Ginting.

Siti Napsiyah mengatakan pandemi Covid-19 sudah terjadi lebih dari satu semester, sejak pertama kali ditemukan pada akhir Desember 2019 dan pertama kali masuk ke Indonesia awal Maret 2020. Tren fenomena orang sudah lengah, sudah nggak begitu parno (terhadap Covid-19), perasaan takut seperti di awal 2 bulan atau 2 minggu pertama itu karena orang merasa kalau dalam bahasa sosial itu disentisisasi, sudah tidak sensitif karena menganggap hal itu biasa. Apalagi sudah lazim di masyarakat, diaktakan sudah herd immunity, jadi istilahnya kalau sudah hukum rimba itu the survival of the fittest. Mungkin itu yang membuat orang sudah melawan kebiasaan yang seharusnya normal sejak saat itu.

“Mengajak kepada siapapun ke keluarga, kolega, teman-teman, gunakan masker. Saya ingat iklan waktu zaman-zaman masker mahal, slogannya I protect you, you protect me. Saat saya pakai masker berarti saya melindungi kamu, siapapun yang ada di sekitar saya.  Saya juga berharap mohon anda pakai masker ketika berhadapan dengan saya berarti anda melindungi saya. Kalau kata dokter, pemakaian masker mampu menahan droplet yang sekian ribu atau jutaan yang memancar.” ajaknya.

Senada dengan Siti Napsiyah, Dedi Purnama mengatakan kita harus sadar dulu kesehatan itu penting, rata-rata semua masyarakat menganggap Covid-19 ini sebagai penyakit yang biasa. Namun, ketika mereka sudah kena dia baru sadar bahwa Covid-19 memang ada. Inilah yang perlu ditekankan kepada masyarakat bahwa Covid-19 itu ada dan kita harus sadar protokol kesehatan harus kita patuhi dan terapkan semaksimal mungkin.

Sebagai anak muda yang aktif berorganisasi, Dedi bersama rekan-rekan GP Ansor Jakarta Selatan juga melakukan berbagai macam kegiatan yang tujuan utamanya memberikan kesadaran kepada masyarakat akan bahaya Covid-19 ini.

“Yang paling utama, kita memberikan kesadaran kepada masyarakat. Kita memberikan masker, kita melakukan penyemprotan-penyemprotan gratis kepada masyarakat. Itu salah satunya untuk menyadarkan kepada masyarakat Covid-19 memang ada maka harus kita jauhi dan waspadai”

Link Video Edukasi tentang Adaptasi Kebiasaan Baru dan Protokol Kesehatan:

https://youtu.be/VANiiIO2F4I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *